Ini adalah sebuah perjalanan cinta seorang gadis yang bernama Yanti. Yanti adalah anak SMP. Yanti mempunyai seorang kakak yang bernama Anna. Sekarang Anna sedang duduk di kelas 3 SMA. Anna mempunyai seorang pacar bernama Hary. Hary adalah anak SMA N 2. Hary tinggal di Parluasan Lorong 20. Hary adalah sosok cowok yang romantis dan rela berkorban demi Anna, pacarnya. Selain romantis, pria itu juga adalah sosok pria yang bertanggung jawab dan peduli kepada pacarnya.
Suatu malam, Anna sudah kangen banget sama pacarnya, Hary. Lalu, Anna menelepon Hary untuk datang ke rumah. Sambil menunggu Hary datang ke rumah, Anna bergegas untuk mandi supaya ia tampak menawan di depan Hary. Beberapa saat kemudian, Hary pun tiba di rumah Anna bersama temannya yang bernama Robin. Anna menyuruh adiknya untuk membuat kopi susu untuk Hary dan temannya. Sambil menunggu kopi selesai dibuat, mereka mendengar lagu-lagu Kerispatih dan Lyla.
Yanti pun datang dengan membawa kopi susu buatannya untuk Hary dan temannya, Robin. Sewaktu Yanti memberikan gelas kepada Hary dan Robin, Robin memandang Yanti lama sekali dengan tatapan yang mendalam. Yanti pun tercengang, kemudian ia bergegas pergi ke dapur meletakkan talamnya.
Setelah itu Hary menyuruh Anna untuk memanggilkan Yanti. Yanti bingung mengapa ia dipanggil oleh kakaknya. Dengan wajah yang ketakutan, Yanti pun datang ke ruang tamu. Lalu Anna menyuruh adiknya supaya duduk di sebelah temannya Hary, Robin. Yanti pun menuruti kata-kata kakaknya, Anna.
Detak jam pun berdetak, seakan ada pertanda. Hary dan Anna bernyanyi di ruang TV. Sedangkan, Yanti dan Robin duduk berdua di tengah ruang tamu, dan di tengah dinginnya malam. Seiring waktu berjalan, Robin dan Yanti hanya berdiam-diam saja.
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba Robin langsung memegang tangan Yanti.
“Ka mau gk lo jadi pacar gw?” (tanya Robin dengan gugup)
Mendengar perkataan Robin tadi, ia pun terpaku dan tercengang diam.
Yanti pun tiba-tiba tertawa dan berkata, “Ha..? Gak…! Lo gak mungkin suka ma gw? Lagian kita baru aja kenal, masak lo langsung suka ma gw? MUSTAHIL banget!
“Kenapa gk mungkin? Kenapa mustahil? Cinta tidak mengenal kapan, dimana, dan siapa. Cinta bisa datang kapan saja ia mau, dan kapan saja ia dibutuhkan.”
“Kalau lo memang cinta sama gw, coba buktikan sebesar apa cinta lo kepada gw..?” (suara pelan).
Robin pun menjawabnya sambil memegang erat tangan Yanti.
“Gw gk perlu buktikan sekarang, nanti setelah kita jadian, baru gw bakalan buktikan rasa cinta gw sama lo.”
Yanti hanya terdiam selama 1 jam. Sambil menunggu jawaban dari Yanti, Robin memastikan rasa cintanya dengan terus memegang tangan Yanti dengan erat dan sangat erat.
“Jawab donk, Ka? Jangan hanya diam aja donk. Kok gw malah dicuekin gini sih”, tanya Robin.
“Lo serius gak sama gw?”
“Yaelah ini anak dibilangi bawel mat dah. Serius lah, kalo gk mana mungkin gw nembak lo seyakin ini, Ka?”
Yanti pun hanya terdiam sambil membengkok-bengkokkan tangannya. Robin langsung memegang tangannya kembali.
Di tengah-tengah keheningan, jam sudah menunjukkan pukul 10.30, Hary langsung memanggil Robin.
“Bro…Ayo pulang? Udah malam banget nih, ntar kita diomelin sama nyokap?”
”Okeh. Sabaran napa Bro.”
Beberapa saat kemudian, Hary pamit sama Anna, pacarnya. Dan Robin juga pamit kepada Yanti.
“Gw pulang duluan ya, Ka. Gw tunggu jawaban lo!”, seru Robin.
“Hmmmm…”, jawab Yanti
Keesokan harinya, malam-malam, Hary dan Robin datang lagi ke rumah Anna dan Yanti. Yanti tidak mengetahui bahwa Robin dan Hary akan datang ke rumah. Hary dan Robin datang sewaktu Yanti mempunyai tugas mengetik dari sekolah.
Sewaktu Yanti sedang mengetik, tiba-tiba ada seseorang yang menutup matanya Yanti dengan erat.
“Siapa ini? Sakit tau.!”, seru Yanti.
”Ini gw Robin, Ka..”, jawabnya
Yanti tidak percaya dengan perkataan pria itu.
“Akhh….Bohong..”, tanya Yanti dengan suara yang agak takut.
Lalu Robin melepaskan tangannya dari mata Yanti yang menutup matanya. Dengan lekas, Yanti langsung menoleh ke belakang dan berkata dengan suara yang nyaring.
”Robin?” Mendengar suara Yanti, Robin langsung tertawa..
“Ha..ha..ha…ha…ha… Ya, ini aku, Yanti”, seru Robin.
“Lo ngapain datang kemari?!”
”Gw mau minta kepastian dari lo, Ka. Gw mau minta jawaban pertanyaan gw kemarin. Ingat kan?”, tanyanya.
Lalu Yanti terdiam lagi. Robin pun bingung. Tapi, Robin langsung memegang tangan Yanti lagi, agar Yanti tambah yakin kalau Robin benar-benar cinta sama Yanti.
Lalu Yanti menjawab, “Ya….Gw masih ingat. Kalo gw terima lu.” (dengan suara malu-malu).
Tetapi Robin tidak mengerti apa maksud jawabannya Yanti.
“Maksud lo?”, tanya Robin.
“Gw mau. Yah mau jadi pacar lo, o’on! Belaga sok polos lo tau gak?!”
Robin terkejut dan tidak percaya mendegar jawaban Yanti. Dia mengira kalau itu semua adalah hanya sekedar mimpi. Karena ingin mendapatkan kepastiannya, Robin bertanya kepada Yanti, “Akh…Lo serius, Ka? Gak main-main kan? Gak bercanda kan?”.
“Yaloh. Lo kalo gak percaya yaudah. Tapi…”
“Tapi apa?”, tanya Robin.
“Tapi lo harus janji, kalau lo gak bakalan mainin perasaan gw?”.
“Hahahaha… Iya..iya deh cantik”, jawab Robin.
Jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun dan seiring waktu berjalan, hubungan Robin masih kekar bertahan, meskipun ada banyak rintangan dan masalah yang datang silih berganti mencobai hubungan mereka, tapi mereka tetap sabar dan tabah. Walau kadang kala mereka tidak tahan dan bertengkar. Tapi, salah satu dari mereka ada yang mengalah. Hal ini membuat hubungan mereka tahan lama.
Tapi, suatu saat masalah kecil menimpa mereka. Robin ketahuan selingkuh dengan teman satu sekolahnya. Kemudian Yanti tidak sanggup untuk mempertahankan hubungan mereka lagi. Dan Yanti memilih untuk putus dari Robin, karena Yanti sudah terlanjur benci sama Robin.
Akhirnya, mereka putus. Tapi hati Yanti sebenarnya tidak rela. Hati Yanti setiap hari merintih kesakitan menahan sakit. Tapi tak seorang pun yang memperhatikan Yanti.
Sejak saat itu pula Yanti berubah total dari yang ceria, sekarang jadi pemurung tiap saat. Tapi suatu saat temannya Yanti bernama Andre melihat Yanti sedang menangis. Desah suara Andre terdengar merdu di telinga Yanti dan sangat terasa mendalam.
“Jika kau terus-terusan gini karena cowok, lo bukan Yanti yang gw kenal dulu. Lo berubah, Yanti yang dulu pergi untuk selamanya dari hidup gw. Untuk apa kita berlarut-larut dalam kesedihan, karena itu akan membuat diri kita yang rugi. Lebih baik kita mencari jalan keluar dari semua peristiwa yang terjadi. Jangan sembunyi. Tuhan pasti akan berikan jalan yang terbaik, jika memang itu jalan yang terbaik buat kalian berdua, terimalah. Jika memang pasangan kita lebih bahagia sama orang lain daripada sama kita, relakanlah, karena suatu saat nanti lo kan temukan yang terbaik dari dia”, bisik Andre.
“Yanti… Kita tak pernah tau apa yang bakalan terjadi. Lo gk pengen semua ini terjadi, dan gw juga. Gw gk pengen melihat lo nangis, sedih, sakit. Gw tau lo pasti benci banget sama yang namanya cowok. Tapi gw disini ada buat lo. Karna gw sayang sama lo”, bisik Andre.
Setelah berkata itu, tak bisa menahan rasanya itu, Andre pun menatap perlahan bola mata Yanti yang berkilau dan sembab karena menangis tanpa berkedip sedikit pun. Dan langsung menciumnya lama.
“Gw Cinta sama lo. Gw sayang sama lo. Dan lo gak pernah sadari rasa gw, perhatian gw ke elo! Gw bodoh! Kenapa harus jatuh cinta sama sahabat gw sendiri. Yanti, gw mau lo jadi pacar gw?”, tanya Andre
Sementara itu, Yanti hanya bisa terdiam dan diam.
“Gw sakit, Ndre. Gw sakit! Lo gak tau apa yang gw rasain. Gw BENCI sama cowok. Gw BENCI!”, teriaknya
“Gw tau lo pasti sakit. Gw tau… Tapi gw benar-benar yakin sama perasaan gw. Gw yakin sama diri gw. Gw pasti bisa hapus air mata lo dengan tawa. Dan membuat lo bahagia.”
“Lo pasti bakalan nyesal ntar kalo pacaran sama gw. Gw bukan yang terbaik buat lo, Andre.!”
“Gw yakin banget.”
Langsung Andre memeluk Yanti seraya Yanti masih menangis.
“Selama gw masih ada, gw pasti bisa liondungi lo. Selama gw disini, menagislah di punggungku. Teriaklah. Gw akan terus meluk lo, sampe lo bener-bener udah tenang. Gw gak bakal lepasin pelukan ini sebelum lo yakin kalo gw bisa buat lo tersenyum.”
“Andre… Makasih banget. Makasih buat semua ini. Makasih karna lo udah mau sayangi gw. Gw sayang lo.” (berkata sambil mencium pipi kanan Andre)
Orang yang mencintai kita jauh lebih baik daripada orang yang kita cintai. Orang yang mencintai kita jauh lebih bisa buat kita bahagia daripada orang yang kita cintai.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar